busur panah 3
Busur jemparing atau biasa disebut juga gandhewa / gěndhéwa, adalah alat UTAMA didalam permainan jemparingan. Baik busur untuk jemparingan gaya Kraton Jogja - maupun jemparingan gaya luar kraton, sama-sama WAJIB menggunakan bahan dari kayu dan bambu.
Seperti yang biasa kami lakukan saat gladhi / latihan panahan di sasana jemparingan LANGENASTRA, kampung Langenastran, Kraton Yogyakarta, dolanan jemparingan dilakukan dalam posisi duduk bersila, dengan posisi menyamping dari arah sasaran (kalang kinantang).
Untuk jemparingan gaya kraton Yogyakarta, posisi memegang gandhewa adalah tidur / horisontal, badan tegak, mengincar sasaran bandul TANPA dg dilihat mata, melainkan dg RASA (baca : roso). Teknik ini dalam panahan dikenal dg istilan : instinctive archery.
# UKURAN BUSUR JEMPARINGAN-MATARAMAN
Umumnya, busur jemparingan-mataraman dibuat sepanjang rentangan-tangan si pemakainya.
Tapi ini juga bukan menjadi aturan-baku, harus seperti apa / bagaimana. Ada busur jemparingan yg dibuat dg panjang 2 meter lebih, ada juga yg justru lebih pendek, hanya sekitar 1.50m.
Rata-rata, busur yg dipakai oleh para Kanjeng di Karaton Yogyakarta, panjangnya 170 - 180cm
Busur jemparingan-mataraman yg saya pakai, panjangnya hanya 160cm. Tidak terlalu panjang, dg pertimbangan supaya tidak nyampluk (menabrak) busur-lain saat gladhen bersama. Perlu diingat, halaman KDB Kemandungan tidak terlalu luas, kalau semua menggunakan busur-panjang, pesertanya tidak-bisa banyak 😁😁🙏
.


Komentar
Posting Komentar